Assalamulaikum ukhti!!!
Mungkin sedikit
banyak saya akan berbagi cerita awal mula memakai hijab
Berawal dari rasa
penasaranku terhadap buku ustad felix Y siauw yang banyak beredar di dunia
maya. Akhirnya kuputuskan untuk membeli ditoko terdekat. Sampai ditempat toko
itu banyak yang melongoh melihat apa yang ku pegang. Mereka berkomentar banyak tetang buku
itu “duch itu kan buku lama banget, kenapa baru belinya sekarang” celetuknya
sinis. Aku yang hanya termenung sambil mengaruk garuk kepala mnghindar dari
amukan macam2 suara (hehehe). Setibanya dirumah ku babat habis buku itu hingga
melupakan rutinitas yang setiap sore selaluku kerjakan. Ya seperti jalan-jalan
atau sekedar nongkrong dipinggir jalan (waduch). Rasanya setelah baca buku
ustad felix bagai jatuh ditumpukan jerami (gak enak banget, ditumpukan bunga
sek mending). Ringan tapi menyayat hati. Intinya, sayang ajah udah payah-payah
buat pahala, eh ilang karena umbar aurat. Pahala masuk, ada pula dosa yang
masuk. Ya Allah sejak saat itu aku putuskan untuk hijrah walau hanya memakai
jilbab seadanya saja. Beberapa bulan kemudian hijrahnya mulai lebih baik dari
sebelumnya. Menjulur hingga menutupi dada. Awalnya sedikit risih sejak pasang
mata menatapku sebagai bahan tontonan. Hingga teman2 tertawa terbahak bahak melihat penampilan yang
ku kenangkan. “Kamu gila kekampus pake pakaian gini. Mau ngebom kampus???”
kembali tertawa hingga yang begitu menyakitkan ketika dosen yang biasa mengajarku
membuat drop “lho ismi sudah menikah, kok perubahannya drastis gini” jleb
rasanya tak mampu menopang badanku, saat kata2 itu menghantamku berulang ulang.
Ya Allah kenapa harus menikah dulu baru pakai krudung lebar. Hari kedua tetap
ku putuskan untuk tidak mengurungkan niatku untuk hijrah. Lalu dia yang selalu
aku perhatikan. lewat dihadapanku... “eh lebay banget sich, yakin kamu bakal
pake kaya gini terus. Entar buka tutup lagi, berbenah diri dulu baru pake hijab”
rasanya pengen tak copot hari itu juga. Kenapa cobaannya kenak banget.Bukan
hanya itu, ibuku juga tidak menyetujui
perubahan itu hingga akhirnya renungan itu dikuatkan oleh sahabatku. ku menangis
tersedu sedu karna hijrahku tak sesuai harapanku. sahabatku mencoba menenangkanku
walaupun dia sendiri belum bisa berhijab dengan sempurna. “perubahanmu untuk orang
lain atau untuk Allah???” dia berkali kali menanyakan hal itu. Aku sedikit
tertunduk “kalau ada yang mempermasalahkan alkhlaqmu untuk berhijab. Katakan pada
mereka bahwa sifat berbeda dengan kewajiban yang Allah perintahkan”tuturnya
merangkul pundakku. Kegelisahanku lambat laun mulai terjawab oleh siraman
rohaninya. Ku tanamkan prinsip bahwasannya jangan meninggalkan Allah karna
sesuatu tapi tinggalkanlah sesuatu karna Allah. Walaupun prinsip itu kopian
dari sederet status dikontak bbm an ku tapi sudah mengalir disetiap langkah
niatku menuju taat. Hari selanjutnya mereka mulai lebih menjauh apalagi orang
yang sering ku perlihatkan fotonya pada ibuku. Walaupun sebenarnya sedih namun sedikit
demi sedikit ku jalankan prinsip hidupku. Alhasil hingga saat ini semua orang
mulai paham yang ku maksud termasuk dia dan eits ngomongin tentang dia aku
putuskan untuk menerimanya hingga dia berani datang menemui waliku J.
Dan semenjak saat itu komunikasiku dengannya mulai berkurang, meminimalkan
jalan mudah setan untuk menjebakku. Alhamdulillah semoga hingga nanti bisa
istiqomah Amin (lebih lagi orang mengenal identitas diriku sebagai muslimah)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar