Kamis, 08 Oktober 2015

hijrahku...



Assalamulaikum ukhti!!!
Mungkin sedikit banyak saya akan berbagi cerita awal mula memakai hijab
Berawal dari rasa penasaranku terhadap buku ustad felix Y siauw yang banyak beredar di dunia maya. Akhirnya kuputuskan untuk membeli ditoko terdekat. Sampai ditempat toko itu banyak yang melongoh melihat apa yang ku  pegang. Mereka berkomentar banyak tetang buku itu “duch itu kan buku lama banget, kenapa baru belinya sekarang” celetuknya sinis. Aku yang hanya termenung sambil mengaruk garuk kepala mnghindar dari amukan macam2 suara (hehehe). Setibanya dirumah ku babat habis buku itu hingga melupakan rutinitas yang setiap sore selaluku kerjakan. Ya seperti jalan-jalan atau sekedar nongkrong dipinggir jalan (waduch). Rasanya setelah baca buku ustad felix bagai jatuh ditumpukan jerami (gak enak banget, ditumpukan bunga sek mending). Ringan tapi menyayat hati. Intinya, sayang ajah udah payah-payah buat pahala, eh ilang karena umbar aurat. Pahala masuk, ada pula dosa yang masuk. Ya Allah sejak saat itu aku putuskan untuk hijrah walau hanya memakai jilbab seadanya saja. Beberapa bulan kemudian hijrahnya mulai lebih baik dari sebelumnya. Menjulur hingga menutupi dada. Awalnya sedikit risih sejak pasang mata menatapku sebagai bahan tontonan. Hingga  teman2  tertawa terbahak bahak melihat penampilan yang ku kenangkan. “Kamu gila kekampus pake pakaian gini. Mau ngebom kampus???” kembali tertawa hingga yang begitu menyakitkan ketika dosen yang biasa mengajarku membuat drop “lho ismi sudah menikah, kok perubahannya drastis gini” jleb rasanya tak mampu menopang badanku, saat kata2 itu menghantamku berulang ulang. Ya Allah kenapa harus menikah dulu baru pakai krudung lebar. Hari kedua tetap ku putuskan untuk tidak mengurungkan niatku untuk hijrah. Lalu dia yang selalu aku perhatikan. lewat dihadapanku... “eh lebay banget sich, yakin kamu bakal pake kaya gini terus. Entar buka tutup lagi, berbenah diri dulu baru pake hijab” rasanya pengen tak copot hari itu juga. Kenapa cobaannya kenak banget.Bukan hanya itu,  ibuku juga tidak menyetujui perubahan itu hingga akhirnya renungan itu dikuatkan oleh sahabatku. ku menangis tersedu sedu karna hijrahku tak sesuai harapanku. sahabatku mencoba menenangkanku walaupun dia sendiri belum bisa berhijab dengan sempurna. “perubahanmu untuk orang lain atau untuk Allah???” dia berkali kali menanyakan hal itu. Aku sedikit tertunduk “kalau ada yang mempermasalahkan alkhlaqmu untuk berhijab. Katakan pada mereka bahwa sifat berbeda dengan kewajiban yang Allah perintahkan”tuturnya merangkul pundakku. Kegelisahanku lambat laun mulai terjawab oleh siraman rohaninya. Ku tanamkan prinsip bahwasannya jangan meninggalkan Allah karna sesuatu tapi tinggalkanlah sesuatu karna Allah. Walaupun prinsip itu kopian dari sederet status dikontak bbm an ku tapi sudah mengalir disetiap langkah niatku menuju taat. Hari selanjutnya mereka mulai lebih menjauh apalagi orang yang sering ku perlihatkan fotonya pada ibuku. Walaupun sebenarnya sedih namun sedikit demi sedikit ku jalankan prinsip hidupku. Alhasil hingga saat ini semua orang mulai paham yang ku maksud termasuk dia dan eits ngomongin tentang dia aku putuskan untuk menerimanya hingga dia berani datang menemui waliku J. Dan semenjak saat itu komunikasiku dengannya mulai berkurang, meminimalkan jalan mudah setan untuk menjebakku. Alhamdulillah semoga hingga nanti bisa istiqomah Amin (lebih lagi orang mengenal identitas diriku sebagai muslimah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar