Disetiap
sekaan air mata yang terus membanjiri pipiku, ku menahan bahwa halnya saja aku
masih rapuh untuk menghadapi kenyataan ini. “Tuhan, aku masih sangat
membutuhkannya” menghela nafas sembari menampakkan senyuman diwajahku yang
tampak lusuh sejak dia memutuskan untuk pergi. Seliran angin yang menembus
persendian tulangku tak mampu ku tahan terlalu lama, hari mulai tampak gelap.
Segerombolan jangkring mulai meramaikan suasana malam itu. Ku tengok ribuan
bintang yang tampak mengerti keresahan hatiku. Enggan rasanya ku memalingkan
suasana malam itu, dingin yang semakin menyapa memaksaku untuk bergegas kembali
kekamar. Kuayunkan kakiku menapaki tingginya jendela. Saat rasa itu menyapa aku
melakukan hal yang sama bersembunyi dibalik jendela dengan sodoran keindahan
hamparan membentang. Ku kunci rapat jendela dengan hentakan yang keras karna
mungkin ayah belum sempat memperbaikinya. Ku rebahkan tubuhku diatas kasur, ku
berharap Allah melihatku dalam keadaan tak resah lagi. Aku hanya bongkahan
kecil yang tak sebanding dengan kuasanya. “Ya Allah maafkan aku, malam ini aku
masih mengingatnya” sembari ku memejamkan mata yang sejak tadi terusik dengan
desiran angin dari celah jendela. Ku terlelap dengan harapan esok aku mulai
membangkitkan prinsip yang ku torehkan di buku harianku. Bahwasannya memiliki
keinginan taat itu harus ditegakkan.
“Ash
shalaatun minan naum” adzan subuh membuyarkan tidur nyenyakku. Tak menunggu
lama ku paksa mataku tetap terbuka. Ku torehkan ke arah jarum jam
“alhamdulillah subuh masih menyapaku” kutarik selimut yang melingkar dipunggung
kakiku. Bergegasku ku menjalankan perintahnya. Selepas itu ku sodorkan kedua
tanganku menghadapnya “Ya Allah, tunjukkan jalan terbaik untukku, aku sangat
kesusahan mengatasi masalah ini” deraian air mataku kembali tumpah seiring ku
mengingat seorang yang kurasa aku tak boleh mengingatnya jika ia belum halal
bagiku. Aku merasa sangat berdosa dibuatnya, ia datang disaat semua belum siap
untuk menjalin hubungan yang syah, yang Allah ridhai. Ku putar kembali memori
itu. Berawal dari persahabatan yang begitu erat untuk dilepaskan, yang begitu
kokoh untuk dihancurkan, dan begitu kuat untuk dipatahkan. Sebut saja yusuf, ia
adalah sesosok pria dewasa berjiwa kesatria. Begitu yang kusebutkan berulang
ulang. ia mengalah karena lebih mengutamakan kepentingan orang lain dengan
tanda kutip Mengalah bukan berarti kalah, namun berbuat sesuatu yang membuat
situasi yang bisa lebih terkendali. seiring berjalannya waktu aku mulai merasa
terinfeksi virus merah jambu. yang sudah menapaki stadium terparah. sama
halnya sudah mengrogoti sebagian besar hatiku. “Ya Allah apa yang terjadi, aku
mulai merasa beda saat bersamanya” komat kamitku tak terima. Semua jadi serba
menggangjal buwatku. Untuk menatapnya saja selalu tertunduk malu saat ia
membalas tatapanku.”Ya Allah aku jatuh cinta” dan tiba – tiba saja aku menepisnya
“ha, Ini tak boleh terjadi” celetukku dalam hati. Entah setan apa yang merasuki
yusuf hingga ia melontarkan kata yang membuatku jatuh ditumpukan bunga
yang berserakan “maryam, bolehkah aku menjagamu lebih dari pada ini” ucapnya
padaku walaupun hanya via sms rasanya cukup membuatku membayangkan sesuatu yang
berwarna cerah. Tanpa berpikir panjang aku menerimanya dengan sodoran
jawaban “iyya aku bersedia”. Seakan aku lupa bahwa aku telah mengkhianitanya,
bahwa aku telah melanggar peritah yang telah Allah tetapkan. “dan janganlah
kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang
keji, dan suatu jalan yang buruk (QS. Al-Israa’:32). Pada awalnya aku merasa
dengan aku pacaran tanpa proses bersentuhan aku akan terhindar dari itu. Tapi sejak
ustad felix menyadarkanku dengan sugukan” pacaran itu memang tidak berujung
zina tapi zina berawal dari pacaran” sejak saat itu ku putuskan untuk
membatalkan rencanaku, aku tertunduk sejenak menafsirkan kata - kata dari 2
belah pihak. Karna yusuf adalah pria dewasa, dia mengangukkan kepala tanda
mengerti maksud dan tujuanku untuk menghidari hal buruk yang akan menimpa kita,
jika kita tetap nekat. Ku bernafas lega sembari yusuf tersenyum dan menguatkan
hatiku. Ku hanya tertunduk malu saat dia meyakinkanku bahwa dia tidak akan
pernah berjanji hanya akan berusaha untuk tetap membuatku bahagia hingga
saatnya kita bisa memegang predikat syah.aku merasakan ia pemimpin yang baik
untuk anak- anakku kelak.
Tapi
kebahgiaan itu sebentar saja saat aku merasa aku semakin mengarahkan ke hal
yang membuat setan terbahak – bahak merasakan kemengan itu.tanganku gemetar
rasanya. Aku cemas virus merah jambu itu kembali membangkitkan nafsuku. Dengan
mengkhalalkan segala cara ku menutup celah jika virus itu tiba2 mengrogotiku
lagi. Entah alasan apa aku memutusan tali persaudaraan dengan dia. Alhasil dia
jenuh dengan tingkahku yang semkin kekanak – kanakan yang memvonisnya merasa
bersalah. “pergi, jika membuatmu sedikit lega” setiap masalah yang ku buat
selalu ku akhiri dengan kata – kata itu. Dan mungkin saja sudah titik puncak
dia merasa jenuh dengan keaadaan ini ia memilih untuk pergi dengan lumuran
amarah. Aku hanya terpaku, masih belum bisa membayangkan aku tanpanya. Niatku
hanya ingin meluruskan pandanganku tentang islam. aku tak mau merusaknya denga
cara2 terbodoh yang setan inginkan untuk kita bersama. Aku tak ingin menodai
semuanya dengan keinginan yang sesaat, cinta yang tulus tidak patut
diumabarkan. Aku percaya bahwa ia akan kembali dengan membawa walinya untukku. Ku
tuliskan namanya disecarik kertas “Yusuf, andai saja kau sudah pantaskan dirimu
untuk menikah. Aku sangat bisa menerimamu” ku goreskan warna merah muda itu
disekitar namanya. “Allah memiliki rencana lain untuk kita” sembariku tersenyum
kembali.
“Bbbbbbbrak” suara itu membuyarkan lamunanku
kutolehkan ke arah pintu “maaf dek, tadi nambrak pintu hehe” sambil mengaruk
garukkan kepalanya. Ku menghela nafas sejenak melihat kekonyolan kakak iparku.
Ku lihat matahari sudah menerobos masuk jendela. Ku lipat kembali mukenah dan
sajadahku. Tak terasa melamunkannya membuatku lupa akan tugasku pagi ini.
Terpaku didepan notebook membongkar revisian yang pembimbing obrak ambrik di
karya tulis ilmiahku.:)

