Kamis, 08 Oktober 2015

cerpen sahabat, cinta dan taat

Disetiap sekaan air mata yang terus membanjiri pipiku, ku menahan bahwa halnya saja aku masih rapuh untuk menghadapi kenyataan  ini. “Tuhan, aku masih sangat membutuhkannya” menghela nafas sembari menampakkan senyuman diwajahku yang tampak lusuh sejak dia memutuskan untuk pergi. Seliran angin yang menembus persendian tulangku tak mampu ku tahan terlalu lama, hari mulai tampak gelap. Segerombolan jangkring mulai meramaikan suasana malam itu. Ku tengok ribuan bintang yang tampak mengerti keresahan hatiku. Enggan rasanya ku memalingkan suasana malam itu, dingin yang semakin menyapa memaksaku untuk bergegas kembali kekamar. Kuayunkan kakiku menapaki tingginya jendela. Saat rasa itu menyapa aku melakukan hal yang sama bersembunyi dibalik jendela dengan sodoran keindahan hamparan membentang. Ku kunci rapat jendela dengan hentakan yang keras karna mungkin ayah belum sempat memperbaikinya. Ku rebahkan tubuhku diatas kasur, ku berharap Allah melihatku dalam keadaan tak resah lagi. Aku hanya bongkahan kecil yang tak sebanding dengan kuasanya. “Ya Allah maafkan aku, malam ini aku masih mengingatnya” sembari ku memejamkan mata yang sejak tadi terusik dengan desiran angin dari celah jendela. Ku terlelap dengan harapan esok aku mulai membangkitkan prinsip yang ku torehkan di buku harianku. Bahwasannya memiliki keinginan taat itu harus ditegakkan.
“Ash shalaatun minan naum” adzan subuh membuyarkan tidur nyenyakku. Tak menunggu lama ku paksa mataku tetap terbuka. Ku torehkan ke arah jarum jam “alhamdulillah subuh masih menyapaku” kutarik selimut yang melingkar dipunggung kakiku. Bergegasku ku menjalankan perintahnya. Selepas itu ku sodorkan kedua tanganku menghadapnya “Ya Allah, tunjukkan jalan terbaik untukku, aku sangat kesusahan mengatasi masalah ini” deraian air mataku kembali tumpah seiring ku mengingat seorang yang kurasa aku tak boleh mengingatnya jika ia belum halal bagiku. Aku merasa sangat berdosa dibuatnya, ia datang disaat semua belum siap untuk menjalin hubungan yang syah, yang Allah ridhai. Ku putar kembali memori itu. Berawal dari  persahabatan yang begitu erat untuk dilepaskan, yang begitu kokoh untuk dihancurkan, dan begitu kuat untuk dipatahkan. Sebut saja yusuf, ia adalah sesosok pria dewasa berjiwa kesatria. Begitu yang kusebutkan berulang ulang. ia mengalah karena lebih mengutamakan kepentingan orang lain dengan tanda kutip Mengalah bukan berarti kalah, namun berbuat sesuatu yang membuat situasi yang bisa lebih terkendali. seiring berjalannya waktu aku mulai merasa terinfeksi virus merah jambu. yang sudah menapaki stadium terparah.  sama halnya sudah mengrogoti sebagian besar hatiku. “Ya Allah apa yang terjadi, aku mulai merasa beda saat bersamanya” komat kamitku tak terima. Semua jadi serba menggangjal  buwatku. Untuk menatapnya saja selalu tertunduk malu saat ia membalas tatapanku.”Ya Allah aku jatuh cinta” dan tiba – tiba saja aku menepisnya “ha, Ini tak boleh terjadi” celetukku dalam hati. Entah setan apa yang merasuki yusuf  hingga ia melontarkan kata yang membuatku jatuh ditumpukan bunga yang berserakan “maryam, bolehkah aku menjagamu lebih dari pada ini” ucapnya padaku walaupun hanya via sms rasanya cukup membuatku membayangkan sesuatu yang  berwarna cerah. Tanpa berpikir panjang aku menerimanya dengan sodoran jawaban “iyya aku bersedia”. Seakan aku lupa bahwa aku telah mengkhianitanya, bahwa aku telah melanggar peritah yang telah Allah tetapkan. “dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu  perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk (QS. Al-Israa’:32). Pada awalnya aku merasa dengan aku pacaran tanpa proses bersentuhan aku akan terhindar dari itu. Tapi sejak ustad felix menyadarkanku dengan sugukan” pacaran itu memang tidak berujung zina tapi zina berawal dari pacaran” sejak saat itu ku putuskan untuk membatalkan rencanaku, aku tertunduk sejenak menafsirkan kata - kata dari 2 belah pihak. Karna yusuf adalah pria dewasa, dia mengangukkan kepala tanda mengerti maksud dan tujuanku untuk menghidari hal buruk yang akan menimpa kita, jika kita tetap nekat. Ku bernafas lega sembari yusuf tersenyum dan menguatkan hatiku. Ku hanya tertunduk malu saat dia meyakinkanku bahwa dia tidak akan pernah berjanji hanya akan berusaha untuk tetap membuatku bahagia hingga saatnya kita bisa memegang predikat syah.aku merasakan ia pemimpin yang baik untuk anak- anakku kelak.
Tapi kebahgiaan itu sebentar saja saat aku merasa aku semakin mengarahkan ke hal yang membuat setan terbahak – bahak merasakan kemengan itu.tanganku gemetar rasanya. Aku cemas virus merah jambu itu kembali membangkitkan nafsuku. Dengan mengkhalalkan segala cara ku menutup celah jika virus itu tiba2 mengrogotiku lagi. Entah alasan apa aku memutusan tali persaudaraan dengan dia. Alhasil dia jenuh dengan tingkahku yang semkin kekanak – kanakan yang memvonisnya merasa bersalah. “pergi, jika membuatmu sedikit lega” setiap masalah yang ku buat selalu ku akhiri dengan kata – kata itu. Dan mungkin saja sudah titik puncak dia merasa jenuh dengan keaadaan ini ia memilih untuk pergi dengan lumuran amarah. Aku hanya terpaku, masih belum bisa membayangkan aku tanpanya. Niatku hanya ingin meluruskan pandanganku tentang islam. aku tak mau merusaknya denga cara2 terbodoh yang setan inginkan untuk kita bersama. Aku tak ingin menodai semuanya dengan keinginan yang sesaat, cinta yang tulus tidak patut diumabarkan. Aku percaya bahwa ia akan kembali dengan membawa walinya untukku. Ku tuliskan namanya disecarik kertas “Yusuf, andai saja kau sudah pantaskan dirimu untuk menikah. Aku sangat bisa menerimamu” ku goreskan warna merah muda itu disekitar namanya. “Allah memiliki rencana lain untuk kita” sembariku tersenyum kembali.
“Bbbbbbbrak” suara itu membuyarkan lamunanku kutolehkan ke arah pintu “maaf dek, tadi nambrak pintu hehe” sambil mengaruk garukkan kepalanya. Ku menghela nafas sejenak melihat kekonyolan kakak iparku. Ku lihat matahari sudah menerobos masuk jendela. Ku lipat kembali mukenah dan sajadahku. Tak terasa melamunkannya membuatku lupa akan tugasku pagi ini. Terpaku didepan notebook membongkar revisian yang pembimbing obrak ambrik di karya tulis ilmiahku.:)

hijrahku...



Assalamulaikum ukhti!!!
Mungkin sedikit banyak saya akan berbagi cerita awal mula memakai hijab
Berawal dari rasa penasaranku terhadap buku ustad felix Y siauw yang banyak beredar di dunia maya. Akhirnya kuputuskan untuk membeli ditoko terdekat. Sampai ditempat toko itu banyak yang melongoh melihat apa yang ku  pegang. Mereka berkomentar banyak tetang buku itu “duch itu kan buku lama banget, kenapa baru belinya sekarang” celetuknya sinis. Aku yang hanya termenung sambil mengaruk garuk kepala mnghindar dari amukan macam2 suara (hehehe). Setibanya dirumah ku babat habis buku itu hingga melupakan rutinitas yang setiap sore selaluku kerjakan. Ya seperti jalan-jalan atau sekedar nongkrong dipinggir jalan (waduch). Rasanya setelah baca buku ustad felix bagai jatuh ditumpukan jerami (gak enak banget, ditumpukan bunga sek mending). Ringan tapi menyayat hati. Intinya, sayang ajah udah payah-payah buat pahala, eh ilang karena umbar aurat. Pahala masuk, ada pula dosa yang masuk. Ya Allah sejak saat itu aku putuskan untuk hijrah walau hanya memakai jilbab seadanya saja. Beberapa bulan kemudian hijrahnya mulai lebih baik dari sebelumnya. Menjulur hingga menutupi dada. Awalnya sedikit risih sejak pasang mata menatapku sebagai bahan tontonan. Hingga  teman2  tertawa terbahak bahak melihat penampilan yang ku kenangkan. “Kamu gila kekampus pake pakaian gini. Mau ngebom kampus???” kembali tertawa hingga yang begitu menyakitkan ketika dosen yang biasa mengajarku membuat drop “lho ismi sudah menikah, kok perubahannya drastis gini” jleb rasanya tak mampu menopang badanku, saat kata2 itu menghantamku berulang ulang. Ya Allah kenapa harus menikah dulu baru pakai krudung lebar. Hari kedua tetap ku putuskan untuk tidak mengurungkan niatku untuk hijrah. Lalu dia yang selalu aku perhatikan. lewat dihadapanku... “eh lebay banget sich, yakin kamu bakal pake kaya gini terus. Entar buka tutup lagi, berbenah diri dulu baru pake hijab” rasanya pengen tak copot hari itu juga. Kenapa cobaannya kenak banget.Bukan hanya itu,  ibuku juga tidak menyetujui perubahan itu hingga akhirnya renungan itu dikuatkan oleh sahabatku. ku menangis tersedu sedu karna hijrahku tak sesuai harapanku. sahabatku mencoba menenangkanku walaupun dia sendiri belum bisa berhijab dengan sempurna. “perubahanmu untuk orang lain atau untuk Allah???” dia berkali kali menanyakan hal itu. Aku sedikit tertunduk “kalau ada yang mempermasalahkan alkhlaqmu untuk berhijab. Katakan pada mereka bahwa sifat berbeda dengan kewajiban yang Allah perintahkan”tuturnya merangkul pundakku. Kegelisahanku lambat laun mulai terjawab oleh siraman rohaninya. Ku tanamkan prinsip bahwasannya jangan meninggalkan Allah karna sesuatu tapi tinggalkanlah sesuatu karna Allah. Walaupun prinsip itu kopian dari sederet status dikontak bbm an ku tapi sudah mengalir disetiap langkah niatku menuju taat. Hari selanjutnya mereka mulai lebih menjauh apalagi orang yang sering ku perlihatkan fotonya pada ibuku. Walaupun sebenarnya sedih namun sedikit demi sedikit ku jalankan prinsip hidupku. Alhasil hingga saat ini semua orang mulai paham yang ku maksud termasuk dia dan eits ngomongin tentang dia aku putuskan untuk menerimanya hingga dia berani datang menemui waliku J. Dan semenjak saat itu komunikasiku dengannya mulai berkurang, meminimalkan jalan mudah setan untuk menjebakku. Alhamdulillah semoga hingga nanti bisa istiqomah Amin (lebih lagi orang mengenal identitas diriku sebagai muslimah)